Sarongge dan Saung Sarongge yang Ngangenin



Datang lagi ke Sarongge, Sabtu tadi. Cuaca alamnya masih sama seperti dua tahun lalu.  Dingiiiin. Kalau gak pakai jaket, bisa menggigil syantik. Kebun-kebun beraneka sayur, masih memanjakan mata, menyambut setiap tamu yang datang ke sini. Kebun tehnya juga masih terhampar menggemaskan. Jalan yang menanjak, lalu menukik tajam, menjadi ciri khasnya. Maklumlah, ini daerah pegunungan, jadi kontur jalanannya yang memang begitu.

Pertama kali singgah di kawasan yang ada di Cianjur ini sekitar 8 tahun lalu,  dengan teman-teman kantor, ya acara kantor, holiday gitu ceritanya, sekalian mengakrabkan diri satu sama lain. Siapa tahu di kantor jarang bersua bareng, sibuk ngopi sendiri, eaaaa....

Kedua kali, masih dengan teman kantor, dibiayai kantor, sekitar dua tahun lalu. Kali ketiga pun, tetap dengan teman-teman kantor di kantor yang sama. Kali ini kami holiday mandiri, jadi pakai dana pribadi dan personilnya banyak yang baru. Kami sengaja meluangkan waktu untuk menikmati alam indah nan sejuk, karena bertahun-tahun ‘terkungkung’ di hutan beton Jakarta dan menghisap debu-debu jahat, yang ngaruh banget buat kesehatan. 


Kolam depan saung
Ada Saung Sarongge, yang menjadi tempat persinggahan kami. Besar lho saungnya dan posisinya persis berhadapan dengan lekukan Gunung Geulis, hamparan kebun dan suasana perkampungan. Jadi asupan gizi indah bagi mata ini. Melihat anak-anak bermain di kolam kecil yang ada di depan saung pun, jadi pemandangan langka. Maka itu mas bro, duduk di teras saung, sambil menyeruput kopi atau teh panas, wajib dilakukan sebelum berleha-leha masuk saung. 


Nyantai dulu bro :)))
Mau merenung juga boleh :D
Andai tak ada saung ini, gak tahu tuh ya kita bakal nginep dimana. Ada sih beberapa homestay dan tempat penginapan yang bagus, dari beton pula, area camping ground juga ada, tapi rasanya gak seenak dan senyaman kalau berada di saung, hehehhe. Kamar mandinya juga bagus dan luas, lega deh. Gak sempit kayak di hotel bintang-bintang manja. 

Suasana Saung Sarongge


Kamarnya banyak, ada sekitar 10 kamar kali ya, dengan beraneka ukuran dipan/ tempat tidur. Satu kamar ada yang berisi 3 dipan ukuran satu orang. Kamar lain, ada yang ukuran dipan untuk dua orang dan satu orang, macam-macam deh, tergantung selera dan kebutuhan. Kamarnya juga sudah dilengkapi dengan selimut dan bantal. Bersih lho kamarnya, seprei dan selimut pun wangi, karena diurus.

Ibu-ibu setempat yang mengurus dan mengelola saung ini, termasuk mengurus setiap tamu yang berwisata di tempat ini. Mereka memasakkan kami makanan, minuman, dan mengurus ini dan itu jika kami ada keperluan. Saat kami baru tiba saja, mereka sudah menyediakan teh hangat dan makanan beserta lauk pauknya. Sambalnya yang maknyus dan hidangan lalapan, selalu ada di sini. 


Nah, ini trio ibu yang mengurusi kami, Ibu Wiwik, dkk.
Sekitar 3 jam berada di saung, kami jalan-jalan menuju pabrik kopi “Negri Kopi”, milik Pak Santoso, teman kantor kami. Kopi yang dihasilkan tentu saja ya kopi Sarongge yang kebunnya diolah oleh warga setempat, diproduksi juga di sana. 

Ngobrol dulu dikit sebelum jalan-jalan
Nah, saat menuju ke tempat ini, jalannya menukik, jadi gak ngeberatin badan saya yang bongsor dan seksi ini. Makanya rada sombong pas jalan nurun. Lah, pas pulang, ealalalah, ya kudu nanjak. Eikeh ngos ngosan, capek bingit. Keringat mengucur deras. Biar kata bisa dibilang olahraga, kok daku gak menikmati ya, saking tajamnya tanjakan, hohoho. Tapi ya sudahlah, kapan lagi biasa jalan-jalan kayak gini kalau bukan lagi di daerah Sarongge. Bisa menikmati kebun teh, foto-foto di kebun teh, melihat kebun kol dan daun bawang dari jarak dekat, dll.  
Kebun teh menuju pabrik kopi
Nah, ini gerbangnya pabrik kopi, masuk lagi ke dalam lho..

Oh ya, Pak Santoso inilah yang mengenalkan kami pada Sarongge, sekitar 10 tahun lalu. Beliau ini pegiat lingkungan dan beberapa kali mengajak kami menikmati alam. Pertama kali datang ke sini, kami menginap di area camping ground, di kaki Gunung Gede Pangrango, sekaligus kami adopsi/ tanam pohon di sana. Jangan tanya jalan menanjaknya kayak apa, dobel-dobel capeks. Tapi ya gitulah, ketika sampai di atas, asik. Akrab dengan alam. Kanan kiri hutan/ pepohonan. Tapi, kali ini saya tak ke camping ground, sampai di saungnya saja. Sudah cukup senang kembali bertemu dengan alamnya yang ngangenin. 

Ngobrol di teras pabrik

Pulang dari pabrik, foto-foto manja di tengah kabut
Malam harinya di saung, beberapa teman ada yang ngobrol di teras saung, ditemani angin malam. Kalau daku mah, gak kuat euy, dingin bingit soalnya, jadi ngendon doang dalam kamar/ saung, sambil ngobrol dengan sesama teman yang berada dalam saung juga, hahahha. 

Meski tempat ini begitu dingin, namun udara dan keasrian alamnya menjadi penyeimbang hawa itu. Saat terbangun di pagi hari, misalnya, membuka jendela kamar, mata langsung disuguhkan dengan  hamparan kebun dan lukisan Gunung Gede Pangrango. Kalau di Jakarta, melek mata, udah dijejali dengan asap knalpot dan brisiknya suara kendaraan lalu lalang. 


Nah, ini pemandangan dari jendela kamar

Cuma dua hari satu malam sih kami menginap di sini. Sabtu pagi berangkat, Minggu pagi sudah cabut aja ke Jakarta lagi, karena ada beberapa teman yang masuk kerja jam satu siang. Jadi kudu ngejer pulang pagi. 


Yach, walau jalan-jalannya cuma sebentar, tapi moment menikmati alam dan kebersamaan sama temen-temen kantor, plus “lari” sejenak dari riwehnya ibukota, itu yang paling penting. Menggembirakan jiwa. Yaelah bahasanya. Yang penting happy, gitu deh ya kira-kira, hihihihi.

Nah, sebelum pulang, harus dong ya menikmati sunrise dan foto-foto syantiks. Sampai jumpa lagi Sarongge. 


Foto foto dulu dong ah di saung,  sebelum pulang
Ini fotonya sebelum matahari terbit,
Bye-bye Sarongge
Read More

Sendok

Di kantor saya lagi heboh perkara sendok. Iya, sendok! Jumlahnya lusinan, hampir  menyamai jumlah karyawan kantor. Tapi, sudah satu bulan ini, si sendok telihat semakin sedikit. Satu persatu hilang entah ke mana. Hingga tersisa dua atau tiga. Hilangnya benda ini bikin karyawan kelimpungan, karena fungsinya yang sangat berguna. Untuk makan, menyeduh kopi, membelah cake, dan lain-lain. Kondisi ini membuat teman-teman kantor terpaksa harus bergantian memakai sendok. Siapa cepat, ia dapat, terutama saat jam makan siang. Karena hal ini, sebagian teman ada yang membawa dari rumah dan menyimpannya sendiri, daripada mesti antri pakai sendok.




Berbulan-bulan, misteri lenyapnya sendok belum terjawab. Ada yang menduga hilang tak sengaja, terbuang saat membuang bekas nasi bungkus, atau terbawa tukang bakso saat ia mengambil mangkuk kosong yang sebelumnya dipesan karyawan. Atau… dicolong jin? Hahahha.

Raibnya lusinan sendok ini, terdengar hingga ke pihak bagian umum yang mengurusi soal ini. Mereka pun akhirnya memutuskan agar setiap karyawan membawa sendok masing-masing. Pengumuman itu disampaikan melalui email, per hari di mana sendok tinggal 3 tungkai doang.

“Sisa sendok yang ada di kantor saat ini hanya dikhususkan untuk tamu.” begitu penggalan surat elektronik itu. Semua karyawan “gaduh” setelah membacanya. Tak semua sepakat dengan ide ini. Karena, kehadiran sendok sangat penting dalam urusan sehari-hari termasuk di kantor. Sangat merepotkan jika harus membawa sendiri sendok dari rumah. Dan gak jaminan juga kalau tak bakal hilang. Betul gak sodara-sodari?

Tak tahan dengan hal ini, salah satu karyawan bagian keuangan, Novi, akhirnya membeli sendok satu lusin untuk kantor dengan kocek pribadinya. Di wadah sendok, ia tempelkan kertas dan dituliskan “Sendok Karyawan”. Entah ini sebagai bentuk protes atau kekesalan karena disuruh bawa sendiri sendok masing-masing.
 
Hilangnya sendok dan email dari bagian umum terkati hal ini, jadi obrolan satu kantor. Saat jam makan siang di pantry, beberapa karyawan pun ngerumpiin sendok dengan ceritanya masing-masing.

“Kalau di kantor suami saya, sendok memang harus bawa masing-masing, berikut wadah makanannya. Memang gak disediain sendok di kantornya,” cerita mbak Niti, salah satu tim sales.

Sekretaris Direksi, Lili, bercerita saat acara kumpul keluarga, setiap kali mencuci piring, jumlah sendok selalu dihitung oleh ibunya. “Jika ada yang hilang, Ibu saya akan teriak, ini kok jumlah sendoknya kurang. Setelah dicari, eh, gak tahunya sendoknya ada di bawah kursi atau nyelip di bawah tikar,” kata Lili tertawa.

Sementara, karyawan lain, Wydia, nyeletuk “Betul, jangankan di kantor yang ramai orangnya, di rumah tangga saja sendok sering hilang. Jadi maklum saja kalau sendok di kantor lama-kelamaan tinggal sedikit,” ujarnya sambil menyantap makan siang.


Gak ada sendok= repot

Perbincangan sendok, tak terhenti di area kantor saja. Di grup WA yang beranggotakan karyawan kantor pun, masih lanjut ngobrolin sendok saat jam kerja usai. Ada yang dibawa ke humor, ada yang kesal kebijakan bagian umum, ada yang nyinyir dan sebagainya.

Hmmm, soal sendok yang lenyap entah kemana ini, saya pun mengalaminya sendiri. 10 tahun menjadi anak kos, sudah 3 lusin saya membeli sendok, yang tersisa kini hanya 5 saja. Entah kemana lusinan lainnya. Pernah, terlihat salah satu teman kos, Wina, mengambil sendok kotor saya yang ada di wastafel. Ia cuci, lantas digunakan. Ya maklum, mungkin ia juga tak ada sendok. Namun, setelah itu ia tak mengembalikannya lagi kepada saya. Lalu wassalam.

Ada pula teman kos lain yang lain, Susi, saat ia mencuci piring, sendok-sendok anak kos yang kotor ia cuci semua. Lalu, semuanya ia taruh di kamarnya. Jadi anak kos lain pada hilang sendok,  mereka gak tahu, kalau sendok-sendoknya ditaruh di kamar Susi. Walau tak bermaksud mencuri, seharusnya, Susi mengambil sendok yang hanya miliknya saja. Toh, ia bisa menghitung berapa sendok yang ia punya.

Ulah Susi ketahuan saat ada teman kos, Ijah, yang main ke kamarnya dan melihat banyak sendok nangkring. “Pantesan sendok gue selama ini hilang. Rupanya ada di kamar Susi semua. Kan gue tahu kalau itu sendok gue atau bukan” ujar Ijah bercerita kepada saya sambil menggerutu.

Ah, pantesan ada ungkapan guyonan yang sering muncul “Eh, kamu minggat dari rumah, gak bawa sendok, kan? Ntar ibumu repot nyari sendoknya lho,” hehehe. Ternyata, guyonan ini benar adanya, sendok hilang, bikin pusing orang.

Read More

Jus Alpukat dan Pesawat


"Mau minum apa mbak, Jus orange atau jus berry...?" Seorang perempuan muda tinggi semampai menawari saya minuman dengan ramah ketika sedang dalam perjalanan udara.

"Saya mau jus alpukat, mbak!" jawab saya pede dan mantap.
"Oh, gak ada mbak jus alpukat. Atau, mbak mau susu?” Jawab wanita berseragam biru itu sambil menatap saya heran, mungkin menahan tawa juga, ya..hahaha. 

Tapi, meski permintaan saya konyol, ia masih berdiri disamping kursi saya, masih memegang tatakan cangkir dan minuman kotak ukuran besar. Wanita berusia sekitar 24 tahun itupun, masih bersabar menunggu pilihan minuman apa yang akan saya pinta,  setelah jus alpukat dinyatakan tidak tersedia.. :D

Setelah mikir sebentar dan rada malu dikit, sambil memegang roti isi daging yang sudah saya terima sebelumnya dari si mbak pramugari, saya menentukan pilihan.

"Ya, sudah, kalau begitu, jus orange aja mbak”, ( akhirnyaaaaa…  :D)

Minuman berwarna kuning itupun, segera dituangkan ke dalam gelas dan diberikan kepada saya.

Kakak perempuan saya, yang duduk disebelah saya langsung mencuil lengan saya, setelah sang pramugari meninggalkan jejeran kursi kami. “Kamu ada-ada saja sih, mana ada di pesawat jus alpukat, gimana mereka mau ngeblendernya?”

Hahahha, saya langsung nyengir. Iya, ya, mana ada di pesawat nyediain jus alpukat, emangnya food court, yang segala macam makanan dan minuman tersedia, hihihi…

Sebelumnya, waktu mencari tempat duduk, saya minta diarahkan oleh mbak Pramugarinya, kira-kira nomor kursi saya ada dimana, ya? Kalau gak salah, waktu itu, saya bersama kakak mendapat jejeran kursi nomor 12-an deh. 

Begitu tau posisi saya persis di samping jendela, ah, rasanya seneng bingittss. Yes! Saya bisa leluasa melihat pemandangan alam dari samping jendela. Tapi, ketika pesawatnya hendak take off dari landasan pacu, kan kecepatannya kencang bingit bro, serasa jantung saya ikutan berlari juga, adrenalinpun berpacu kencang. Deg-degan manja deh.

Pas pesawatnya udah separuh naik, ngeliat kebawah takut......takut jatuh. Namun, rasa itu pudar (kayak lagu Rosa) ketika si burung terbang yang akan membawa saya ke Jakarta kala itu, sudah berada di ketinggian normal. 

Saya bisa melihat pemandangan indah dari atas. Kata orang, kalau melihat mobil di jalanan dari atas pesawat, kayak melihat semut, lo. Eh, bener saja. itu mobil kayak semut yang lagi lari-lari berebut mangsa. Rumah-rumah kayak kotak-kotak, dan jalanan atau sungai, kayak uler.. Duh senangnya. Maklum, baru pertama kali naik pesawat, masih norakss, hahahaha..


Itulah cerita kekonyolan saya ketika baru pertama kali naik pesawat yang mengantarkan saya menuju Jakarta, sekitar 12 tahun lalu. Yup, moment pertama kalinya terbang bersama burung besi, selalu terus saya ingat. Bagaimana ketika laju pesawat begitu kencangnya saat hendak lepas landas meninggalkan daratan, bagaimana rasanya melihat pemandangan darat dari atas langit, hingga akhirnya pesawat menghentakkan rodanya ke landasan dengan manja, penanda bahwa kami telah sampai ke kota tujuan, termasuk kisah konyol “jus alpukat” yang rasanya bikin saya jadi langsung nyari blender, trus belanja alpukat sekarung. 


Siap-siap mau terbang manjah :D

Btw, bisa terbang ke suatu tempat bersama burung besi itu, adalah salah satu impian saya sejak zaman SMU dan kuliah.  Kala itu, kalau melihat pesawat melintas di atas atap rumah, berharap dalam hati, “Kapan ya saya bisa naik pesawat?”  Alhamdullilah, kesampean mas bro.

Kalau Anda, apa hal norak, lucu, kaget atau takjub, saat pertama kali naik pesawat? Hayo apa hayo...?
Read More

Nasi, Lauk, Jangan Mubazir, dong!

Saya paling sebal melihat orang yang sering tidak menghabiskan nasi. Kadang disisain sesendok di pinggir piringnya, malah ada yang cuma menyantap setengah piring saja. Trus, yang setengah itu, ya dibuang, dengan alasan sudah kenyang atau apalah. Mbok ya, kalau merasa perut sudah agak penuhan, ngambil nasinya sedikit-dikit aja toh, biar gak kebuang.

Ada lagi yang beralasan, lauk dalam piringnya udah habis, jadi gak ada rasa atau gak enak kalau makan nasinya doang. Alhasil, nasinya ditinggalin begitu saja. Kasihan atuh ngelihat nasinya.


Pun, dengan orang yang suka masak lauk atau nasi berlebihan, sehingga tak semuanya termakan dan jadi basi. Kalau setiap masak selalu dalam porsi yang banyak, sementara yang makan hanya 2 atau 3 orang saja, gimana gak terbuang? Teringat kata-kata Almarhum Uwak saya: ‘Masaklah sesuai dengan jumlah anggota keluarga, supaya gak mubazir”

Banyak sekali orang yang ngirit masak beras, hanya supaya kebutuhan makan mereka sehari-hari tercukupi. Kata teman kuliah saya dulu ”Coba kalau butiran-butiran nasi yang terbuang tadi, dikumpulkan bersamaan dengan orang-orang satu provinsi, yang juga membuang butiran nasinya, sudah berapa banyak nasi yang terkumpul? Dan itu sudah bisa untuk makan beratus-ratus orang?” 


Bukan hanya soal nasi saja yang bikin saya kesal. Melihat orang menumpahkan saos atau sambal yang berlebihan, lantas tak dihabiskan, duh!


Pun, misalnya, saat mengambil lalapan ketika makan di restoran sunda. Ciri khas resto sunda itu, biasanya lalapan ditaruh di tempat khusus dan konsumen diperbolehkan mengambil sebebasnya. Nah, karena bebas, bukan berarti mesti serakah dan gak kira-kira dunk. Sering saya melihat banyak lalap yang tak termakan dan terbuang ketika sang tamu resto sudah meninggalkan tempatnya. 

Restoran Sunda tempat langganan saya itupun, menempel tulisan di dinding, persis di atas tempat wadah besar lalapan dan sambal, bunyinya: “Tolong mengambil lalap dan sambal secukupnya.” 

Nah, karena saya kekeuh dalam hal ini, maka saya selalu bersikap tegas dan cerewet kepada teman terutama keponakan. Keponakan saya nih,  sering tak menghabiskan makanannya. Saya pun akhirnya ngedumel. Waktu kecil dulu, mereka kadang takut dengan omelan saya, setelah diomelin, barulah dihabiskan makanannya, hahaha....

Karena galak, saya pun disebut tante cerewet oleh keponakan. Ya, gak apa-apa, kan cerewetnya dalam hal yang positif. Iya, toh?

Kalau Anda, suka cerewet dalam hal apa? 



Read More

SEPATU


Saat anak-anak kos sedang berkumpul di sofa ruang tamu, Meli tiba-tiba bercerita tentang sepatu. Meski baru saja pulang kerja, ia semangat sekali menceritakan tentang sepatunya. Bukan sepatu high heels atau mirip wedges. Bukan pula sepatu baru dengan model kekinian.


Ini bukan sepatu yang saya ceritakan di artikel ini ya :D


Sepatu yang ia ceritakan berukuran kecil, yang sepertinya untuk ukuran kaki anak kecil. Sepatu itu ia simpan di dalam kamar kos-nya. Ia lantas menunjukannya kepada kami. Eh, ternyata itu adalah sepatu Meli. Sepatu ketika ia masih kecil. Ia membawa sepatu itu dari kampung untuk diberikan kepada adiknya yang sedang bersekolah di Jakarta.

Sambil menenteng sepatu kecil berwarna putih pias itu, (karena sudah berumur), dengan bangga Meli bercerita kalau sepatunya itu masih bertahan dari ia TK sampai sekarang. Masih awet sampai sekarang. Sepatu itu, secara turun temurun dipakai oleh adik-adiknya. Jadi, tak perlu beli sepatu baru lagi untuk sekolah TK, karena masih ada sepatu yang masih layak digunakan.

Ia menceritakan tentang “sepatu awet” itu sambil tertawa senang. Tampaknya ia bangga, kalau barang ’sejarahnya’ masih bisa bertahan dan tersimpan dengan baik. Adik-adiknya pun tak malu memakai ’sepatu bekasan’ sang kakak.

Saya terpaku mendengar celotehnya. Lalu, tiba-tiba teringat dengan tumpukan sepatu / sandal high hells yang ada dalam kamas kos saya. Benda-benda itu masih berada dalam kotaknya, jarang saya pakai. Lalu.....




Read More

Blog Kamu ke Mana?

Perasaan saya selalu bertabur bunga-bunga manja ketika membaca blognya si...... 
Tulisannya, menurut saya benar-benar menggunakan analisis ala-ala wartawan gitu.  Researchnya lengkap dan aktual, jadi tulisannya tuh tak seperti tulisan blog, tapi terlihat layaknya sebuah berita yang biasa mejeng di laman kanal berita ternama. Atau, seperti membaca sebuah artikel di majalah, via website. Begitulah kira-kira perumpamaan saya terhadap tulisan yang membuat pengetahuan saya bertambah. Saya selalu suka dengan kritik atau ide-ide pemikirannya. Itu menurut daku ya cyiinn. 


Bagi saya yang masih unyu-unyu dalam hal kepenulisan ini, blog yang saya suka ini cukup bermanfaat, karena mengetengahkan opini dan pengalamannya secara keren, smart, bermutu dan kena. Biarpun tulisannya ada yang panjaaang, tapi gak ngebosenin. Kalimat perkalimat yang ia sajikan, layaknya makanan gurih yang dengan nikmatnya saya santap sampai habis. Sangat menambah wawasan. Sayapun bisa belajar dari tulisannya.

Blog tersebut sangat update. Apapun yang sedang ngehitsss, ngetren, ngehot, ngeblinger, aneh bahkan nyeleneh yang menjadi buah bibir dimana-mana, akan dia kupas tuntas layaknya mengupas kentang lantas digoreng trus dijual. Selanjutnya, tinggal menunggu respon dari sang pembeli. Kalau rasanya enak, maka orang akan kembali lagi.

Blog yang saya sukai ini, juga sering me-review film, lengkap dengan pembandingnya, lho. Bahkan, ia pun mengutarakan pendapatnya tentang film mana yang layak atau  menang di ajang FFI atau piala citra. Ia juga memberikan pendapatnya tentang sang aktor/aktris. Penyampaiannya santai dan renyah, khas anak muda.  Ia juga mengamati industri musik. Dari ngomongin Agnez Mo, boyband/girlband tanah air, Korea dan dunia. Wuih, benar-benar punya refrensi yang luas.

Panjang deh, kalau ngomongin soal blognya. Saya langsung jatuh cinta ketika pertama kali berkunjung ke blognya. Saya belajar banget dari bahasa dan gaya kalimat yang ia sampaikan. Serius tapi santai, bikin saya mengangguk-ngangguk manjah :)

Tapiiiiiiii, blog yang saya sukai itu udah sekitar dua atau 3 tahunan ini menghilang. Tak meninggalkan jejak. Kalau linknya dibuka, akun blog orang lain yang muncul.  Baru saja dibuka lagi linknya, gak nemu jua, duh, sedih eikeh. Entah alasan apa yang membuat blog itu raib. Sibukkah, malaskah, atau ada hal lain? Blog Kamu ke manaaaahhh??!!

Setelah saya jalan-jalan ke beberapa blog lain yang pernah saya kunjungi, saya juga menemukan beberapa blog yang tak update lagi. Ada yang terakhir ngeblog tahun 2015, ada pula blog yang terakhir diupdate pada 2016 lalu. Padahal, saya dan si empunya blog tersebut, dulunya saling sering berkunjung manja dan menginggalkan komentar di masa aktif-aktifnya ngeblog.

Saya pun mengalami hal serupa. Sempat vakum ngeblog beberapa bulan di 2017 lalu. Alasannya? Banyak! Gak usah deh saya sebutin, hihihi. Tapi salah satunya karena faktor kesibukan dan kepenatan menjadi penyokongnya. Bukan cuma kepenatan tubuh tapi juga kepenatan mata dan hati, tsaaah. Jadi karena sedang penat, ya istirahat ngeblog dulu kali ya, daripada dipaksain. Meskipun, kalau dipikir-pikir, semua orang ya sibuk dan penat dengan urusan masing-masing dong ya. Ya, sudahlah, yang penting sekarang saya sudah ngeblog lagi, hihihi.  



Btw,

Ngeblog, adalah salah satu resolusi yang saya taruh dalam hati di akhir 2012 lalu. Alhamdullilah, kesampean. Gegara saya udah jadi blogger, maka saya pun akhirnya suka membaca blog orang. Padahal, jujur ya, dulu sebelum saya suka ngeblog, ketika bertemu dengan tulisan yang beralamat dalam suatu blog, gara-gara tak sengaja ketemu di google, langsung saya close tuh laman, boro-boro saya baca! (sadis banget, yak, hehehe). Iyah, dulu saya gak suka baca blog. Karena, bagi saya itu tulisan yang belum tentu bisa dipercaya kebenarannya. Beda dong, kalau kita melihat tulisan di kanal berita populer semacam kompasdotcom, tempodotcom, atau detikdotcom. Lah, ini baru saya pantengin.

Eh, tak disangka ternyata, saya sendiri yang “terjebak” dalam dunia perbloggingan sekitar 5 tahun ini. Tak, seperti yang saya bayangkan, rupanya ada banyak manfaat yang didapat dari ngeblog. Salahsatunya bisa berbagi cerita tentang pengalaman hidup atau informasi, yang syukur-syukur bisa menginspirasi orang. Pun, sebaliknya, dari cerita teman-teman yang mereka tulis di blognya, saya juga mendapatkan pengetahuan lain tentang pengalaman mereka. Misalnya, ada yang pernah mengalami penipuan, suka duka berprofesi sebagai ini dan itu, ada yang berbagi tips untuk suatu hal, atau kisah inspiratif lainnnya.

Nah, bertemu dengan blog-blog yang cucok dan asoy, bisa jadi acuan saya tuk semakin kreatif lagi, membuat saya semakin mencintai blogging dan mencintai kamu #eh...

Ada yang ngalamin hal yang sama gak seperti saya?
Read More

Masjidnya Satu, Berkahnya Rame-rame



Berkah Mengaji

Nur Bintang Ismail (4 tahun) tampak paling lincah sore itu diantara teman-teman sebayanya. Baru saja kelar belajar mengaji bersama ustadzah pembimbingnya, Muthi’ah (20), ia langsung bermain bersama teman-teman sepengajiannya. Sementara, murid-murid lainnya menunggu giliran antrian mengaji.  
Ismail (belakang) bermain di sela sela belajar mengaji

Tak lama, Ismail--panggilan akrabnya--dipanggil ibunya. Ia disuruh mewarnai huruf-huruf Al Quran di buku gambar dengan pensil pewarna yang sudah disiapkan. Ismail kecil mulai mewarnai sambil tengkurap di lantai. Sang ibu yang sedari tadi menemaninya, ikut mengarahkan agar gambarnya bagus. Riuh rendah sore itu karena suara-suara bocah kecil yang belajar mengaji, tak membuat Ismail terganggu.


Ismail belajar mewarnai huruf Al Quran, didampingi Ibunya, Mina

Ismail sudah 6 bulan belajar ngaji di Taman Pendidikan Al Quran (TPA) Masjid Astra, Sunter, Jakarta Utara. Rumahnya berada di daerah Tembok Bolong, Muara Baru, Penjaringan. Menurut ibunya, mereka biasa berjalan kaki untuk menuju ke Masjid Astra. Dua kakak Ismail yang kini duduk di bangku SMP, ketika masih kecil, dulunya juga mengaji di tempat ini.
 
“Dari kecil, bagusnya anak harus sudah belajar mengaji. Di dekat rumah, ada masjid, namun Ismail memilih mengaji di Masjid Astra, karena luas dan gratis. Kalau lebaran, biasanya saya Sholat Ied di sini,” ujar Mina-Ibunya Ismail.

Mina, sehari-hari berjualan es batu, sedangkan suaminya bekerja sebagai cleaning service. Tugasnya mengantar Ismail ke Masjid Astra, tak mengganggu aktivitasnya. Ia mengaku, jualannya bisa ditinggal, karena ada anaknya yang lain yang melayani jika ada yang membeli.

Di TPA ini, anak-anak ini tak hanya diajari mengaji, namun juga diajarkan menulis, menghafal doa-doa harian, bacaan sholat, menggambar dan mewarnai huruf Arab, menyanyi lagu Islami dan belajar sholat berjamaah. Para bocah dan ustadzah beraktivitas di teras samping masjid.
Suasana Taman Pendidikan Al Quran Masjid Astra, di teras masjid
 
Menurut Kepala Sekolah TPA Masjid Astra,
Ustadzah Umi Masyitoh, pengajar di TPA ini ada 4 orang dan dibagi per kelompok berdasarkan usia peserta. Saat ini, jumlah anak-anak yang bergabung di TPA sekitar 60-an lebih, dengan rentang usia 4 sampai 11 tahun. Banyak murid yang tidak hadir saat itu, karena tak seramai hari-hari biasanya. Sebabnya, kata Umi, ada ibunya murid yang baru melahirkan,  jadi tak ada yang mengantar murid tersebut ke TPA, ada pula yang sedang liburan bersama keluarga.

TPA ini sudah ada sejak 2002. Masyarakat kawasan Tanjung Priok dan sekitarnya banyak yang menitipkan anaknya belajar mengaji di sini. Selasa, Rabu dan Jumat, sekitar 16.00-17.30 WIB adalah jadwal belajarnya. Setiap Januari, biasanya pendaftaran murid baru, akan dibuka. Meski gratis, namun pihak TPA Masjid Astra,  tak membatasi jumlah murid yang mau bergabung. 


“Mengajar di sini karena ingin mengamalkan ilmu. Kesulitannya, biasanya kalau anak-anak membaca Iqro harus berulang-ulang. Tapi, kita terus sabar dan mengingatkan serta memotivasi anak dan orang tua, jadi seperti ada hiburan tersendiri,” ujar Umi.
 
Waktu menunjukkan pukul 17.30 WIB, ketika semua anak-anak dan 4 orang ustadzah menyanyikan lagu Islami berbarengan sambil bertepuk tangan. Riang sekali. Rupanya itu adalah penanda, pelajaran mengaji sudah usai, dan mereka akan berpisah. Jadi, meski ada yang belajar ngajinya lebih dulu selesai, pulangnya tetap berbarengan. Semangat sekali lho mereka belajar mengaji dan bernyanyi, layaknya taman bermain. 
Muthiah (hijab hijau) Ustadzah paling muda di TPA ini. 
Masih kuliah semester 5 di salahsatu Sekolah Tinggi Agama Islam
di kawasan Jakarta Utara

Semangat yang sama, juga ditunjukkan oleh para laki-laki remaja dan dewasa, yang belajar menghafal Al Quran. Setiap Sabtu Ba’da Dzuhur, akan menggema suara-suara lantang dan bersahutan menyuarakan lantunan ayat-ayat Al Quran dari dalam masjid berlantai dua itu.

Menurut salah satu pengurus Masjid Astra, Syaefurohman, mereka adalah para laki-laki yang berhasil lolos untuk belajar menghafal ayat-ayat Al Quran. Pengajarnya, tentu saja Ustadz yang sudah sangat berpengalaman.

Suasana Belajar Hapalan Al Quran

Ada 250 orang yang mendaftar untuk mengikuti program ini. Setelah melalui rangkaian tes membaca Al Quran dengan bacaan yang baik dan benar, yang diterima hanya 95 orang.

“Mereka yang sudah diterima, juga gak akan enak-enakan. Setelah 4 bulan, mereka punya tugas baru, yaitu harus mengajarkan ilmunya di masjid ini juga. 1 orang akan mengajar 10 orang. Ini sudah ditetapkan pada perjanjian awal dan mereka semua setuju,” jelas pria yang akran dipanggil Syaiful ini.

Bagi laki-laki yang bacaan Al Quran-nya belum lancar, ada juga program yang khusus untuk belajar mengaji. Waktunya bersamaan, namun beda posisi tempat di dalam masjid. Karena masjid ini cukup luas, tentu saja tak mengganggu program satu sama lain. Dan semua program ini gratis.

Syaiful, yang sering memakai nama samaran "Bang Pitung" saat berinteraksi dengan jemaah via WhatsApp ini, menambahkan, peserta yang mengikuti program tersebut, selain warga yang rumahnya berada di sekitar lokasi, ada juga yang datang dari Serpong dan Bekasi. Bahkan ada yang rumahnya di Pulau Seribu, datang ke Masjid Astra seminggu sekali demi untuk belajar mengaji. “Saya ingin Masjid Astra dikenal sebagai tempat orang nyari ilmu dan gratis,” harapnya.


Suasana Belajar Hapalan Al Quran

Sementara bagi perempuan, setiap Senin usai sholat Maghrib, ada juga lho kelas belajar membaca Al Quran. Sekitar 16 orang perempuan muda mengikuti program ini. Mereka juga datang dari berbagai wilayah di Jakarta.  
 
Karena saat itu saya sedang berada di masjid, maka saya juga ikut bergabung belajar membaca Al Quran. Nah, kalau program ini, Syaiful  yang mengajarnya. Selain sebagai pengurus masjid dan pelayan jemaah sejak masjid ini berdiri, Syaiful juga seorang pendidik atau Ustadz. 


Suasana Belajar Membaca Al Quran Masjid Astra (18/12/2017)
Kami belajar di dalam kantor masjid

Pada program ini, kami diajarkan mengenal dan memahami tanda baca dalam tiap kalimat yang ada pada Al quran, cara pengucapan huruf yang tepat, hubungan antar huruf, panjang pendek ucapan dan sebagainya. Istilahnya, belajar ilmu tajwid.

Sudah lama sekali saya tak belajar tajwid, untunglah kaki yang jenjang ini mengajak saya melangkah datang ke masjid ini. Selain bisa bertemu dan ngobrol-ngobrol seru bersama Syaiful dan rekan-rekannya, saya jadi mendapat berkah dengan ikut belajar ngaji.

Oh iya, afdolnya sih, yang mengajar kami adalah pengajar perempuan atau ustadzah. Namun, kata Syaiful, mencari SDM (Sumber Daya Manusia) cewek atau ustadzah itu susah. Makanya, ia turun tangan mengajar murid perempuan, namun ilmu yang diberikan tetap sampai kepada kami.

 

Berkah Kajian Islam


Bagi yang haus, monggo datang ke masjid ini. Anda tak hanya disuguhkan kopi panas yang manja dan rujak buah nan syantiks (seperti saat saya bertamu ke kantor masjid) tapi, Anda juga akan disuguhkan minuman penyegar jiwa lewat kajian pemahaman dasar Islam. 
 
Seperti malam itu, usai menyeruput kopi panas dan sholat Mahgrib berjamaah, “minuman” lainnya yang saya seruput adalah kajian tentang ‘Berdoa”. Ustadz Abdullah Taslim yang tampan, memberikan pemahaman lebih dalam tentang berdoa kepada ratusan jemaah yang hadir malam itu.

Salah satu quote darinya yang saya ingat adalah: “Doa, melatih untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan dan membiasakan diri untuk merasa semua kebutuhan kita Allah-lah yang memenuhi, termasuk tali sepatu yang putus sekalipun.”

Saya yang pertama kalinya ikut menikmati suasana kajian di masjid ini, begitu kaget melihat antusias masyarakat yang bejibun, sampai-sampai area untuk para perempuan, penuh. Bahkan ada yang kebagian duduk di teras. Mereka tak hanya datang dari sekitar masjid saja, tapi juga dari lokasi yang jauh.

Gadis di sisi sebelah kiri saya, misalnya, rumahnya di daerah Kebayoran, Jakarta Selatan. Ia pertama kalinya ikut kajian di masjid ini, karena sering melihat promo atau informasinya di Instagram Masjid Astra. Di sela-sela mendengarkan ceramah, Ia juga mencatat beberapa point penting yang disampaikan Ustadz Abdullah di buku tulis. 


Sementara, di sebelah kanan saya, ada ibu-ibu yang membawa anak berusia 6 bulan dan 4 tahun. Rumahnya ada di sekitar Tanjung Priok. Ia bilang, kalau ada waktu, akan menyempatkan diri untuk mendengarkan kajian di Masjid Astra.

Suasana Kajian 'Berdoa' oleh Ustad Abdullah Taslim (19/12/2017)
Area perempuan, ada di sebelah pembatas kayu

Menurut Syaiful, kajian yang dihadirkan bukanlah kajian yang memancing polemik. Kajian ini untuk umum, tidak terbatas dan tak ada rahasia-rahasiaan, jadi warga tak perlu takut. Bahkan, di setiap kajian justru di-live-kan di Channel Youtube: Masjid Astra TV 

Ia dan rekan-rekannya berusaha menghadirkan penceramah atau narasumber dari berbagai kalangan, agar jemaah punya pilihan, kira-kira mana kajian yang cocok untuk disantap.

“Awalnya agak susah, tapi lama-lama, kita berfikir, tak mungkin bisa memenangi hati semua orang, tapi kita bisa berusaha mendapatkan hati semua orang. Caranya dengan membuat tema dengan sajian menu yang lengkap dan bervariasi, agar sama rata. Jemaah sepi gak apa-apa, asalkan kajian ini benar-benar aman dan berisi ilmu yang baik,” jelasnya. 

Kajian, juga dilakukan dalam bentuk praktik, misalnya praktik memandikan jenazah dan rukiah. Kata Syaiful, banyak yang mendaftar untuk ikut kajian adalah anak-anak muda yang ingin tahu bentuk pemahaman dasar Islam, salah satunya banyak yang ingin tahu tentang Hijab.  

Beberapa tema kajian, ada yang idenya dari jemaah atau warga. Tapi, harus direstui dulu oleh pihak pengurus masjid. Jika disetujui, maka siapa yang menjadi sang penceramah, akan dihunting. “Jadi kajian ini, dari jemaah untuk jemaah,” ujarnya.

Suasana Kajian 'Berdoa' Ustad Abdullah Taslim di Masjid Astra, Sunter

Kajian rutin pemahaman dasar Islam, biasanya setiap Senin-Jumat setelah Dzuhur. Atau Sabtu dan Minggu, pukul 09.30 sampai Dzhuhur. Usai Maghrib pun ada juga kajiannya, seperti yang saya ikuti waktu itu. Tema kajian berkisar tentang keluarga, prinsip dasar dalam Islam dan lain-lain.

Nah, biar jadwalnya tak membingungkan, Syaiful akan menyebarkan atau mengingatkan kepada jemaah jika ada kajian atau event masjid. Informasi itu disebarkan melalui pesan elektronik secara berantai kepada ribuan jemaah yang solid dan rutin ke masjid. Nomor kontak para jemaah yang berjumlah sekitar 2000-an itu, tersimpan apik di dalam ponselnya. 

Berkah Berbagi

Selain menjadi tempat beribadah dan menuntut ilmu,
tahu dong, kalau  masjid juga adalah gudangnya amal. Amal dari semua kalangan lapisan masyarakat atau donatur yang telah menyumbangkan sebagian rezekinya ke masjid ini. Di setiap ada kajian atau kegiatan masjid,  kotak amal biasanya akan "kebanjiran". Saat tak ada kegiatan pun, ada saja orang yang bershodaqoh melalui masjid .yang diserahkan langsung ke pihak masjid. 

Nah, sumbangan dalam bentuk infaq, shodaqoh atau zakat yang diterima masjid ini, salah satunya akan digunakan untuk pengembangan pembelajaran Al Quran, atau diserahkan  langsung kepada masyarakat yang sedang kesusahan atau tertimpa bencana, melalui program santunan sosial.

“Jika ada bencana banjir atau kebakaran di sekitar kecamatan Tanjung Priok, atau bantuan untuk Rohingya, kami bikin gerakan bersama di seluruh masjid Astra Grup lewat jemaah yang mengikuti Jumat-an. Kami juga bergabung dengan Program Nurani Astra untuk penyaluran bantuan bencana. Jika membuat event pengumpulan dana yang bekerjasama dengan beberapa perusahaan Grup Astra, bisa dapat dana sampai satu milyaran lebih, dan basisnya lewat masjid,’ papar Syaiful.

Sumbangan lainnya dari para donatur, digelontorkan juga kepada pelajar tak mampu yang berada disekitar perusahaan Grup Astra dalam bentuk beasiswa pendidikan, setiap tahun.  Tahun 2016 lalu misalnya, penerimanya berjumlah sekitar 4281 pelajar. 

Sementara itu, untuk pemuda putus sekolah dan pengangguran, dana tersebut diwujudkan dalam bentuk program pemberdayaan ekonomi atau wirausaha masyarakat, seperti program Pelatihan Teknisi Ponsel dan Pelatihan Teknisi AC (Air Conditioner).

Dari total 334 alumni pelatihan teknik ponsel, diantaranya ada yang sudah membuka usaha ponsel sendiri. Sedangkan pelatihan Teknisi AC ada sekitar 200-an orang yang sudah menerima manfaatnya. 

 
Untuk Program Pemberdayaan Masyarakat ini, didampingi dan dibina oleh Lazis Amaliah Astra (LAA). Masjid Astra dan LAA sama-sama berada di bawah naungan Yayasan Amaliah Astra. Yayasan ini mempunyai misi membangun Intelektual, Emosional  dan Spiritual masyarakat melalui kegiatan di bidang sosial-keagamaan. Klop ya, sumber uangnya  berasal dari sumbangan donatur atau dermawan melalui pintu masjid, sementara Lazis Amaliah Astra-lah yang membinanya. Soalnya, kalau semuanya diurus oleh Syaiful dan rekan rekannya yang cuma berjumlah 4 orang, bisa rempong, dong, hehehe.

Oh ya, kantor Lazis Amaliah Astra dan Kantor Masjid Astra, posisinya bersampingan. Saking dekatnya, bisa saling ci luk ba dari jendela ruangan. Atau tinggal loncat doang, sampai deh, hehehe. Kalau posisi kantor masjid dan masjid, ya saling menempel mesra. Bahkan, ruang untuk imam/mimbar bisa tembus ke kantor masjid.

Waktu saya main ke kantornya,
banyak sekali barang-barang rumah tangga  yang ditaruh di teras kantor masjid. Rupanya, semua barang-barang itu sumbangan dari warga yang akan disedekahkan kepada warga lain melalui Lelang Sedekah Barang.  Ada 3 kasur besar, barang elektronik, sepeda, kursi rotan anak, baju-baju bekas layak pakai, ada juga baju anak-anak yang masih baru. Baju-baju misalnya, dibuka dengan harga lelang Rp5000. Kalau kasur, ada yang dibuka dengan harga Rp90 ribuan. 


Kasur-kasur untuk dilelang, di samping kantor masjid

Jika Anda mau ikutan beramal, bisa ikut lelang masjid via online di sini. Ada ketentuan dan keterangannya di sana. Siapa yang memasang harga tertinggi dengan waktu yang telah ditetapkan, seminggu misalnya, tentu saja dialah yang berhak mendapatkan barang tersebut. 

Waktu saya ke sana, kebetulan sedang ada bazaar di halaman kantor Pusat PT. Astra International Tbk, di Gaya Motor, Sunter. Oh ya, posisi masjid dan kantor pusat Astra ini saling berhadapan lho. Jadi kalau mau ke bazaar, ya tinggal nyebrang jalan raya doang. Tapi, kudu hati-hati nyebrang jalannya, karena banyak sekali mobil-mobil truk besar yang melintas, karena area ini memang kawasan industri.  

Nah, program Lelang Sedekah Barang yang dimotori masjid dan LAA, juga digelar di bazaar ini. Beberapa jam tangan pria, sepeda, perlengkapan bayi yang masih baru, boneka lucu, kompor gas baru, mesin cuci, pernak-pernik elektronik, dan lain-lain ikut dipajang. Tapi, lagi-lagi, warga yang mau mendapatkan barang tersebut, ya harus melalui mekanisme lelang terlebih dahulu, dengan mendaftar via online tadi.

 
Lelang sedekah barang di Bazaar Astra (19/12/2017)

Nah, bagi pengunjung yang ingin daftar lelang dan melihat lebih lengkap barang-barang apa saja yang sedang dilelangkan, disediakan juga layar LCD besar yang tersambung dengan internet di stand LAA. Jadi, barang-barang yang dipajang di bazaar, hanya sebagai sarana mengenalkan kepada masyarakat, tentang program lelang tersebut atau mengajak masyarakat untuk menyumbangkan barangnya agar bisa dilelangkan. 

Pengunjung melihat layar Lelang Sedekah Barang di amaliah.id/sebar
Menurut Marketing Communication LAA, Asep Nuruddin, saat bulan Ramadan lalu ada yang melelang mobil Kijang, produksi tahun 90-an. “Lelang dibuka dengan harga Rp10 juta, laku Rp16 juta. Meski begitu, mobil tersebut harus kami reservasi dulu, karena kondisinya yang sudah uzur,” ujarnya. 

Uang dari hasil lelang itu, akan disalurkan ke program-program pemberdayaan masyarakat, atau kepada yang berhak menerimanya, seperti yang saya katakan tadi. Lelang ini dilakukan 3 kali setahun, pertama kali dimulai saat Ramadan 2017 lalu.

Foto diambil dari FB Masjid Astra Sunter


Berkah Software
 

Meski masjid adalah gudangnya amal dan gerbal awal uang sumbangan dari para dermawan, namun, menurut Syaiful, tak semua masjid menyajikan laporan keuangan yang baik dan tepat. Jamaah yang sudah menyumbang, baik dalam bentuk barang, infaq, shodaqoh atau zakat, harusnya diberikan bukti atau laporan, kemana larinya uang mereka? 

Jangan sampai uangnya tadi berlari pongah ke tempat yang salah. Atau, bisa saja uang itu nangkring di tempat yang tepat, namun karena tak ada laporan yang baik, maka akan menjadi fitnah. Duh, fitnah itu ngenes rasanya, bukan saat putus cinta saja yang ngenes, lho. Sensitif dah kalau berhubungan dengan duit.

Nah, untuk mengenyahkan perasaan ngenes dan sensitif tadi, saat ini Pengurus Masjid Astra bersama Lazis Amaliah Astra sedang menggalakkan pengelolaan sistem keuangan yang baik, dengan menggunakan sofware khusus, namanya “My Keuangan Masjid”
 
Sofware ini dibuat oleh Bendahara LAA, Rahmat Hidayat, yang background-nya akuntansi, bersama satu orang temannya atau pihak ketiga yang mempunyai kemampuan IT. Sofware ini baru berjalan 4 bulanan. Tapi, pihak Masjid Astra sudah menjalankan sistem keuangan seperti yang ada di software, sudah sejak 9 tahun lalu.

Syaiful menjelaskan, Software ini bisa dipakai oleh semua masjid dimanapun di Indonesia. Untuk mensosialisasikannya, ia dan rekan-rekan LAA mengadakan seminar/wokshop di Jakarta atau di luar kota, untuk berbagi tentang penyusunan budget dan pelaporan keuangan ala Masjid Astra. 


Nah, ini penampakan Annual Report Masjid Astra dan LAA 2016

Awal Desember lalu, saat workshop di Balikpapan, ada 85 perwakilan masjid (ketua masjid dan bendaharanya) dari Jabodetabek, Kalimantan, dan Bandung. Mereka bergabung di seminar untuk belajar sistem pengelolaan budgetting finalisasi laporan keuangan masjid yang proporsional.

“Kami ajarkan kepada khalayak yang berkecimpung di dunia masjid, bahwa laporan keuangan masjid harus transparan, agar menimbulkan kepercayaan dari stake holdernya. Untuk itu harus ada audit dan dan annual report. Untuk di Masjid Astra, laporannya di lampirkan ke Yayasan Amaliah Astra. Pihak yayasan, akan melaporkan ke BOD Astra, dan pemegang saham. Jemaah pun boleh mengaksesnya,” jelasnya. 

Sekarang, masjid manapun bisa memakai software ini via online, dengan cara mendaftar via email, lalu akan dikirimkan log in dan paswordnya. Supaya, kalau ada apa apa, pihak Masjid Astra masih bisa membenarkan.

“Kita ingin masjid ini berdaya guna untuk semua orang, tak sekadar mengumpulkan massa saat pengajian atau kajian saja,’ tuturnya.   



Berkah Inspirasi kebaikan

 

Managemen Masjid Astra, menurut Syaiful, dari dulu sampai sekarang konsen menebarkan Inspirasi Kebaikan. Bagaimana caranya agar masjid bisa berperan sebagai pengarah mindset jemaah agar menjadi agen-agen kebaikan di setiap lini kehidupan masing-masing. Apa yang dilakukan haruslah sesuatu yang baik dan menginspirasi.

“Kalau kata Panji Pragiwaksono waktu dia stand up comedy, bilang ‘kalau mau jualan, sedikit beda itu lebih baik daripada sedikit lebih baik” kata Syaiful tertawa.
 

Untuk memuluskan hal itu, pengurus masjid me-maintenance jemaah, agar mereka tahu bahwa masjid ini eksis, ada yang mengurus dan melayani mereka. “Saya anak buah nih, dan jemaah itu bos saya. Bos harus tahu nomor telepon anak buahnya. Makanya nomor telpon saya tersebar,” katanya.

Inspirasi kebaikan itu, telah menular kepada jemaah atau warga sekitar. Ketika ada kajian atau event, ada warga yang membantu men-support konsumsi dan membantu menyebarkan promo kegiatan masjid di media sosial masing-masing. Padahal, antara pihak pengurus masjid dan jamaah atau warga, belum tentu saling kenal.
 

Begitu pula yang membuat design poster untuk promo acara kajian masjid, juga dibantu oleh orang yang punya kemampuan design grafis. Yang memvideokan kegiatan-kegiatan masjid dan me-live-streaming-kan kajian ke Youtube, adalah yang punya kemampuan videografi dan seorang youtubers. Pun, bagian yang mengecek dan men-setting sound system, adalah orang yang punya kemampuan untuk itu. Bahkan, yang mengelola media sosial Masjid Astra pun, adalah orang-orang yang sering beribadah di masjid ini. Syaiful dan rekan-rekannya hanya mengontrol. Para jemaah melakukan itu dengan sukarela. Semua itu demi membuat masjid tetap eksis dan menggema.

Selain berusaha semakin memperat dan mendekatkan antara jemaah satu sama lain, Syaiful juga mengajak jemaah untuk mempunyai rasa memiliki. Bukan untuk memiliki hati kamu ya, tapi untuk menumbuhkan rasa memiliki rumah ibadah. Ini diwujudkan dengan Bakti Sosial membersihkan masjid, agar para jemaah bisa merasakan apa yang dilakukan oleh para cleaning service masjid. Dalam
setahun, dua kali masjid ini mengadakannya. 

Saat Ramadan lalu, misalnya banyak warga yang berpartisipasi, termasuk para penjual kaki lima yang berada di depan masjid, ikutan menggali ladang amal dengan membersihkan masjid yang bisa menampung sekitar 3000 jamaah itu.

Suasana saat baksos, bisa dilihat di video ini. Video ini garapan salah satu warga yang sering beribadah di sini.



Karena management dan pembinaan yang baik, serta korelasi yang terjaga antara pihak masjid, stake holder dan jemaah, tak heran kalau masjid yang “diurus’ oleh M.Facrial, M. Syarif, Adit Ratno dan Syaiful ini, pernah menjadi Juara II Lomba Binaul Masajid, Kategori Masjid Kantor, dari Dewan Masjid Indonesia Provinsi DKI Jakarta.
 
Syaiful dan Syarif, di ruangan kantor Masjid Astra, Sunter

Gara-gara saya datang ke masjid ini, saya jadi tahu, management masjid itu, ya kurang lebih sama seperti management perusahaan pada umumnya. Ada perencanaan, pengaturan, koordinasi dan relasi, pengontrolan sumber daya/pekerjaan, melayani, membangun dan mempromosikan kegiatan demi mencapai tujuan yang baik.  Di kantornya pun ada komputer, telepon, arsip, buku-buku dan perlengkapan kantor lainnya. 

Sebelumnya, saya mengira management masjid itu cuma membutuhkan tenaga Imam, Muazin (orang terpilih yang bertugas mengumandangkan azan) dan ada orang yang bertugas menjaga/ membersihkan bangunan. Katrok bingit saya ya. Untunglah, beberapa waktu lalu saya main-main ke Museum Astra yang ada di seberang masjid, gara-gara itu saya jadi "nyasar" ke masjid ini, hehehe...

Dapet oleh-oleh pin masjid

Berkah Dari Astra


Masjid Astra ini berada di JL. Gaya Motor Raya, No 3 Sunter II, Tanjung Priok, Jakarta Utara, didirikan oleh PT Astra International tahun 2001, yang dikelola oleh Yayasan Amaliah Astra. Menurut Syaiful, Management Astra mensupport apa yang telah mereka lakukan, salah satunya dengan memberikan kesempatan kepada pengurus masjid untuk presentasi atas apa yang telah mereka lakukan selama ini. 
“Kita ada meeting dua mingguan dengan pihak yayasan, meeting pengawasan 3 bulan sekali, dan meeting pembinaan 6 bulan sekali," katanya.

Selain itu, jika masjid perlu sokongan dana, biasanya dicover oleh pihak yayasan, yang salah satu penyokong dananya adalah PT Astra Internasional melalui program CSR dan divisi ISR.

Head of Public Relations PT Astra International Tbk, Yulian Warman, juga mengatakan hal yang senada. Menurutnya, Pihak Astra memacu management terbaik dalam pengelolaan masjid. Salah satunya ditunjukkan dengan memberikan bantuan dana untuk renovasi bangunan masjid. Pada 2016 lalu, misalnya, masjid ini baru saja merenovasi atapnya, yang menghabiskan dana sekitar  Rp800 juta. 

“Setiap tahun kami mensupport. Manajemen Astra, kita tularkan juga dalam sisi kehidupan termasuk dalam manajemen masjid,” kata Yulian. 

Waktu saya menelpon beliau, ia juga bercerita ide awal dibangunnya Masjid Astra. 

"Presiden Direktur PT Astra International kala itu (sekitar 1998) Teodore Permadi Rahmat atau TP Rahmat, meminta kepada Coorporate Communication, untuk membuat program atau kegiatan bermanfaat yang bisa diberikan kepada masyarakat dan karyawan. Ada beberapa Perusahaan Grup Astra yang juga berkantor di kawasan tersebut, sehingga dibutuhkan tempat yang nyaman dan layak untuk karyawan dan masyarakat sekitarnya agar bisa beribadah," paparnya.

Ia melanjutkan, total karyawan Astra pada tahun 2000-an, sekitar 116 ribu, sedangkan yang berkantor di sekitar kawasan tersebut sekitar 40-60-an ribu. Dengan jumlah karyawan sebanyak itu, management memikirkan bagaimana agar karyawan muslim tak terganggu saat beribadah. Misalnya, jika hendak sholat Jumat, tak perlu jauh-jauh mencari tempat sholat. Meski awalnya masjid ini dibangun untuk memudahkan karyawan Astra beribadah, namun masyarakat umum pun, tentu saja boleh beribadah dan melakukan kegiatan positif di sini. 

“Dengan dibangunnya masjid ini, kami ingin agar karyawan dan masyarakat bisa menjadi penyejuk dan menjadi muslim yang profesional, mengarah kepada Rahmatan Lil Alamin yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,’’ harapnya.


Masjid ini, kini berusia hampir 17 tahun, ada banyak kisah yang telah dilalui. Dari jumlah jamaah yang sedikit, kini membludak.
Dari promosi via radio dan media cetak--jika ada kajian atau kegiatan--kini, tinggal satu klik jari telunjuk di gadget, maka promosi atau pesan bertebaran di mana-mana. Masjidnya cuma satu, berkahnya dinikmati beramai-ramai, menebar ke segala penjuru dalam banyak bentuk.

Begitu pula dengan Astra, yang telah menjalani lika-liku bisnis, sosial, pelayanan dan teknologi selama 60 Tahun. Telah banyak inspirasi dan berkah yang diberikan, tak hanya kepada karyawannya tapi juga kepada stake holder dan masyarakat. 

Inspirasi kebaikan yang saya gali dari Masjid Astra, hanya salah satu bagian dari taburan inspirasi Astra yang telah menjamur di mana-mana. 

Masjid Astra, Sunter kala sore, dari bidikan tangan manis dan cute


Read More