Ragam Budaya dan Aksi di Festival Panen Raya Nusantara 2017


Pendongeng asal Aceh, PM Toh tengah menghibur anak-anak dan pengunjung, saat saya tiba di panggung Festival Panen Raya (PARARA) 2017, hari kedua, Sabtu (14/10/2017). 

Ia bercerita tentang pentingnya fungsi tumbuhan dengan menggunakan berbagai atribut dongeng yang unik. Ia memegang styrofoam berbentuk daun besar, sambil menceritakan tentang daun dan kehidupannya. 

Suara speaker yang menggelegar dan jernih, menjadi pemikat orang, tua muda, untuk menonton dan mendekati area panggung. Didukung pula cuaca yang bersahabat, tidak panas, namun juga tidak mendung, di Taman Menteng Jakarta Selatan, tempat acara itu berlangsung.

Apa yang didongengkan PM Toh, tentu saja berkaitan dengan tema yang diangkat tahun ini “Jaga Tradisi, Rawat Bumi". Festival dua tahunan ini memang bertujuan untuk memberikan informasi mendasar tentang arti penting produk-produk lokal buatan komunitas-komunitas lokal. Dari situ, tentu saja menjadi pembelajaran bagi kita agar bisa menjaga tradisi dan merawat hasil bumi.

PM Toh Mendongeng
 
Dari hasil bumi itu pula, di sekitar lokasi, berhamparan pajangan kerajinan hasil bumi khas daerah yang ada di Indonesia. Ada 70 komunitas dan masyarakat adat, yang unjuk gigi dan memamerkan karya mereka. Mereka datang langsung dari daerahnya, tapi adapula komunitas yang tinggal di Jakarta, tapi produk yang mereka jajakan memang berasal atau dikirim dari masyarakat adat. Produk-produk tersebut merupakan hasil kolaborasi panjang antarwirausaha yang terdiri dari sejumlah komunitas dan pekerja kreatif yang dibangun selama fase prafestival. Ada kain-kain cantik dan ulos dari pulau Flores dan Sumba, NTT. Harganya bervariasi, ada yang per dua meter, Rp 400.00-an.


Kain khas NTT


Ada pula kreasi anyaman bambu yang dibentuk topi, tas, wadah fungsional, dsb. Di booth Yayasan Anak Papua, bisa ditemukan beberapa kerajinan dari anyaman bambu tadi. Jika ingin melihat kerajinan batok kelapa yang dibentuk menjadi bunga matahari, motor vespa, tas, hiasan dinding, dll, persis di sebelah booth Papua.

Ragam kerajinan di PARARA 2017

Ada pula yang menjual biji kopi, dan menghidangkan ragam kopi dari nusantara, namanya Sindikat Kopi Lokal. Selama di Festival, boleh icip-icip gratis kopi di booth ini. Dan booth ini selalu ramai. Bearti orang Indonesia banyak yang pecinta kopi ya, hehehe. Di dekat booth Sindikat Kopi, ada yang sedang sibuk Cupping Session. Barista professional Andro Kaborang, tengah memandu acaranya. Tak kalah ramai orang menyaksikan aksinya dari dekat. Wah, lagi-lagi coffee efek nih, hihihih

Booth Sindikat Kopi Lokal

Tak jauh dari aksi Cupping Session, saya menghampiri penjual jamu kemasan dalam botol. Ada jamu temulak dan jahe merah serta jamu kunyit asam. Dua-duanya enak di lidah saya saya. Saya mencicipi samplenya, sebelum menentukan pilihan mana yang akan saya beli.  Harganya Rp25 ribu per botol. 

Jamu

Di ajang ini, kalau tak ada sajian kuliner, tentunya tak komplit dong ya. Jadi, selain minuman, bisa juga icip-icip makanan. Seorang ibu menawarkan saya roti. Katanya, roti itu dibuat oleh anaknya yang berumur 16 tahun. “Dari umur 4 tahun, anaknya saya sudah belajar masak, dan ini hasil kreasianya dia,” kata si ibu sambil memamerkan home industry-nya. 

Suasana Parara 2017

 
Kerajinan dari biji bijian, bak lukisan


Setelah berkeliling ke beberapa booth di Parara 2017, saya terhenti di lokasi panggung utama, tempat PM Toh mendongeng tadi. Di titik ini, sedang berlangsung gladi resik (GR) peragaan busana/ fashion show yang dibawakan para model. Ow, para peragawati tubuhnya langsing-langsing, sang peragawan ganteng dan badannya atletis. Lumayan cuci mata, hahahha. GR dilakukan agar saat membawakan busana pada malam harinya, para model bisa menguasai medan, sehingga berlangsung lancar. Ada ragam busana tenun dengan empat tema, salah satunya karya Yoga Wahyudi yang bakal dipamerkan.

Para Model saat  Gladi Resik

Sayangnya, ketika malam tiba, dan kembali ke area ini lagi (sebelumnya saya sempat pergi ke tempat lain) fashion shownya sudah selesai, jadi terlewat deh. Tapi, beruntung, saya masih sempat menyaksikan live music band-band indi. Ada Sandrayati Fay, dan Ari Reda, menyuguhkan suara dan musiknya yang menawan. Terlena saya mendengar suara mbak penyanyinya. Band indi itu emang unik, keren dan kece ya. Walau mereka tak terkenal secara komersil, tapi penggemarnya tak kalah banyak, karena karya mereka yang asik didengar.


Live Music Band Indi, Ari reda


Itu cerita hari kedua.

Di hari pertama, yang menarik perhatian saya dan beberapa pengunjung lain adalah  dandanan seorang bapak yang memakai baju adat Kalimantan Utara bersama alat musik. Namanya, Eliyas Yesaya. Saat saya lewat, ia tengah memainkan alat musik "Keng" dari bambu, ciri khas Suku Dayak Lundayah Kalimantan Utara dan rompi yang dipakainya dari jenis kayu Talun (sejenis sukun). Saya mampir sebentar, melihat aksinya memukul “Keng” ke lengan pengunjung, hingga menimbulkan bunyi khas. 

Eliyas Yesaya, (kanan)memainkan alat musik "Keng"


Nah, hari ketiga, Minggu (15/10/2017) yang merupakan hari terakhir festival ini, saya tak mengunjunginya lagi, karena capek, hehehe. Oh ya, Pada Festival Panen Raya Nusantara PARARA 2015, yang merupakan pertama kalinya ajang diselenggarakan, saya ikut menyaksikan juga lho. Bisa dibaca di sini dan di sini kisahnya.

PARARA 2017 bukan sekadar perayaan, namun juga terobosan bagi community enterprises (perusahaan berbasis masyarakat) yang berkelanjutan. Festival ini berusaha menjadi katalisator guna mendukung penjualan produk-produk lokal yang berkelanjutan dengan menggaet para pengambil keputusan serta konsumen. Dan bagi saya yang tinggal di Jakarta, senang sekali, bisa melihat kerajinan khas dari daerah nun jauh di sana.

Semoga saya bisa berjumpa lagi di PARARA selanjutnya. 



Sumber: panenrayanusantara.com

Read More

Bocah, Ojek Payung, dan Hujan




Saat hujan tetiba deras siang itu, saya berada di salah satu resto di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. Ikan bandeng bakar dan tumis toge ikan teri, menemani santap siang saya.

Sekitar 5 menit kala hujan deras mengguyur bumi,  tiba-tiba muncul sekitar 5 orang bocah berusia sekitar 7-12 tahunan. Mereka datang dengan membawa payung besar dengan kompak. Bak sudah diatur, mereka langsung menyerbu salah satu swalayan tak jauh dari resto tempat saya makan. Saya melihat kehadiran-bocah-bocah itu. Kebetulan, posisi kursi tempat saya duduk berada di pinggir dinding resto yang terbuat dari kaca transparan. Jadi, saya bisa jelas melihat aktifitas sekelompak bocah laki-laki yang entah dari mana datangnya.

Rupanya, kemunculan mereka yang sekonyong-konyong itu, adalah untuk menawarkan jasa ojek payung. Itu sebab mereka langsung menyerbu lobi swalayan. Karena mereka tahu, ada banyak customer swalayan yang akan pulang atau menuju ke kendaraan pribadinya dan membutuhkan jasa mereka. Lumayan laku jasa ojek payungnya. 

Dalam hati berkata: “Dasar bocah, tahu aja peluang untuk dapetin duit. Hujan baru saja turun sekitar 5 menit, secepat kilat mereka langsung muncul,” Hehehhe. 

Namun, ketika pelanggan swalayan sedang sepi, dan hujan mulai mereda, mereka mengisi waktu dengan bermain dan bercanda. Kubangan kecil di samping resto pun dimanfaatkan untuk bermain air. Saya memotret geliat seseruan. Tiga orang dari mereka berlari-lari sambil memegang payung, lalu berguling-guling di kubangan, seolah menganggap itu adalah kolam renang. Tak puas tiduran di kubangan, mereka juga saling memercikan air kubangan itu ke teman-temannya pakai kaki. Begitu seterusnya.



Hingga 30 menit kemudian, hujan reda, bocah-bocah itu pun perlahan hilang, entah ke mana. Sepertinya, mereka memang tinggal dekat dengan kawasan itu dan pulang ke rumah masing-masing. Atau mungkin melanjutkan permainan yang lain.

Melihat mereka, moment menjemukan saya di dalam resto karena menunggu hujan reda, jadi hilang. Muncul rasa senang. Tingkah pola mereka menghibur saya. Sepertinya di usia mereka belum ada masalah dan beban. Hujan pun mereka tunggu, karena dianggap sebuah kemujuran, padahal ada penyakit yang mengincar jika daya tuhan tubuh mereka lemah terhadap air hujan dan cuaca dingin. Tapi, yach, namanya juga bocah, bagi mereka, yang penting dapet uang 5 ribu atau 10 ribu dari jasa ojek payung, itu sudah bikin mereka happy. Bisa beli bakso, mainan, atau keperluan sekolah mereka. Ah, dasar bocah!



Read More

Bos Master yang Jadi Master


Sang Master, Hariyanto

Cerah siang itu. Ojek online yang mengantar saya ke kawasan Jatinegara Lio, Jakarta Timur itu pun, melaju tanpa hambatan. Saat saya tiba di tempat yang dituju, pria berkemeja hitam yang saya cari itu tengah sibuk menghitung jumlah nominal yang tertera pada lembaran kuitansi yang dipegangnya. Sementara, tangan kirinya tak henti memencet tombol kalkulator. Tak jauh darinya, saya melihat alat-alat mekanik service handphone. Sementara di kotak etalase, terlihat jejeran puluhan handphone yang telah selesai diservis, ada pula yang menunggu antrian untuk diperbaiki.

Handphone yang sudah dibenahi, akan dibalut dengan lembaran kuitansi, sebagai tanda bukti kepemilikan sekaligus keterangan biaya servis. Ragam ponsel dari berbagai merk itu, menunggu kedatangan tuannya untuk mengambilnya. 

Handphone yang diservis di Master Handphone


Pria hitam manis yang siang itu sedang sibuk, menghentikan aktifitasnya ketika melihat kedatangan saya. “Mbak Eka, ya?” ujarnya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan saya. Hariyanto, namanya. Ia sudah 5 tahun berkutat sebagai tehnisi handphone dan menjadi kepala counter. Saya menemuinya di counter tempat ia bekerja.

Karena sebelumnya kami sudah berkomunikasi melalui telephone, maka obrolan pun langsung berkutat pada dunia ponsel. Kebetulan, gadget yang saya miliki terkadang bermasalah. Sambil mengobrol, saya juga mengulik-ngulik sedikit ilmu dari pemuda berusia 30 tahun itu.

 “Apa sih mas yang bikin handphone lemot dan mudah rusak?” Tanya saya. Ia pun menjelaskan dengan panjang lebar berikut tipsnya. Disela-sela obrolan, Ia juga menunjukkan beberapa kepingan LCD (Liquid Crystal Display) handphone rusak.

“Pernah sampai Rp 1,5 juta biaya servis LCD-nya. Jika LCD itu dari handphone yang harganya mahal, semakin semakin besar pula biayanya, begitu juga sebaliknya “ kata Hari.

Kerusakan LCD adalah kasus yang paling sering ia jumpai, selain kerusakan handphone yang tak bisa dicharge. “Biasanya kalau LCD rusak, touch screen-nya (layar sentuh) juga ikut-ikutan,” ujarnya sambil membongkar dan menunjukkan handphone yang mengalami kerusakan LCD.

Untuk mengetahui kerusakan atau apa yang terjadi pada suatu  handphone, ia akan mengukurnya dengan Power Supply. Dengan alat ini, Hari bisa melihat respon ponsel terhadap listrik, tegangan dan lain-lain. Dari situ bisa terdeteksi apa kerusakannya, tanpa harus membongkar handphone. Hari mengibaratkan, alat ini seperti stetoskop yang sering dipakai dokter untuk memeriksa pasien.

Setelah diketahui kerusakannya, maka ia akan memberitahu atau menghubungi pelanggannya, berikut perkiraan biaya servisnya. Hari mengaku, biaya servis di tempatnya beragam. Dari Rp25 ribu hingga Rp1,5 juta, tergantung tingkat kerusakannya. ”Ada juga yang membatalkan servisnya, karena dianggap biayanya cukup mahal,” ujarnya.

Alat power suplly

Berawal Dari Pelatihan Gratis

Berbicara dengan pria lajang ini cukup mengalir. Ia paham betul seluk beluk jeroan handphone. Setiap pertanyaan saya, ia jawab dengan lancar. Saya pikir ia lulusan sekolah tehnik. Rupanya, ilmu yang membuatnya bak seorang master, tak semahal yang diduga. Ia justru  mendapatkannya secara gratis, berkat pelatihan dari Yayasan Amaliah Astra melalui Lazis Amaliah Astra (LAA) dan disupport oleh PT Dic Astra Chemical (PT DAC), produsen bahan pewarna untuk produk plastik, tekstil, cat dan kayu lapis. Mengadakan pelatihan servis ponsel adalah salah satu wujud CSR perusahaan, yang ditujukan untuk warga yang tidak punya pekerjaan atau putus sekolah yang berada di sekitar kawasan Industri Pulo Gadung.

“5 tahun lalu, saat saya sedang berjalan di sekitar rumah saya, di dekat kawasan Industri Pulo Gadung, tak sengaja melihat ada spanduk  bertuliskan: pelatihan service handphone gratis dari Lazis Amalia Astra. Saya pikir, wah unik dan menarik ini, gratis lagi. Terus, saya catat nomor kontaknya,” kenang Hari. Dari situlah semuanya berawal. Apalagi, saat itu Hari tengah menganggur, karena baru lepas kontrak kerja dari tempatnya mengais rezeki.

Ia pun mencari tahu tentang kegiatan ini dan mendaftar bersama dengan 50 orang lainnya. Butuh perjuangan untuk membuatnya mendapat kesempatan, karena semua peserta yang mendaftar harus menjalani tes terlebih dulu. Psikotes dasar, wawancara soal visi misi dan apa pandangan calon peserta terhadap wirausaha, adalah beberapa hal yang harus mereka lalui. Beruntung, Hari lolos.

“Dari 50 menjadi 25 peserta, terus berkurang lagi jadi 18 peserta. 18 orang inilah yang dicari potensinya untuk dibina. Kami melalui pelatihan selama 10 hari dari pagi sampai sore di PT DAC. Dari 18 orang itu, masih dikerucutkan lagi untuk dibina LAA dan PT DAC. Hingga sampai hari terakhir, yang benar-benar bertahan hanya 8 orang,” kata Hari sembari mengingat apa yang dia lalui hampir 6 tahun lalu.

8 orang ini, menurut Hari, tak sertamerta langsung jadi. Sebagai pembuktian, usai merampungkan pelatihan, Hari dan rekan-rekannya diterjunkan langsung ke rangkaian bakti sosial, berupa service handphone gratis di PT DAC selama satu minggu. Tujuannya, untuk menempa mental dan mengasah ilmu. Sebagai tahap awal, customernya dari pihak internal dulu, yaitu karyawan PT DAC.

“Dari situ, panitia menilai tolak ukur. Ilmu yang disampaikan dapet gak sih? Bisa gak kami dihadapkan kepada permasalahan yang memang sudah terjadi, dalam arti bagaimana menghadapi handphone yang rusak. Jadi ada step by step yang harus dilewati, seperti permasalahan hardware dan software. Disitulah panitia melihat mana yang kompeten atau yang bisa dilanjutkan lagi, atau disebut masa inkubasi,” jelas Hari.

Setelah satu minggu baksos, mereka melalui tahap konsolidasi, yaitu  pertemuan antara tehnisi dan panitia penyelanggara. Dari sini, Hari dan 7 rekannya, dinyatakan lulus sebagai peserta pelatihan angkatan ke-5.

Ketiban sesuatu yang gratis namun berbobot tak berhenti sampai di situ. Oleh LAA mereka dibuatkan 1 unit usaha atau counter service handphone. Agar ilmu yang mereka dapat tak hilang begitu saja, tentunya. Counter itu sudah dilengkapi dengan etalase berikut peralatan-peralatan service handphone. Counter yang berukuran 6x4 meter itu, mereka namakan Master Handphone. 

Suasana counter

Jarak antara pelatihan dan membuka counter, tak berjauhan. Hari dan 7 orang rekan-rekannya membuka counter pada Maret 2012, sementara pelatihan dilakukan Januari di tahun yang sama. Selama dibuatkan usaha atau membuka counter, Hari mengaku masih mendalami sklil dan belajar, namun ia dan rekan-rekan satu angkatannya tetap memberanikan diri untuk memulainya.

“Jadi, modal kita keilmuan dan kemauan, sementara LAA menyediakan alat-alatnya dan kita set up sendiri, selayaknya perlengkapan counter service handphone,” kata Hari.

Tak sulit mencari counter Master Handphone yang berada di kawasan Jalan Jatinegara Lio, Gang Alkaromiyah RT 5/4 Jakarta Timur ini. Lokasinya berada di tengah perkampungan, dilalui banyak orang. “Kalau pagi hari, ada banyak orang berjualan sayur di depan counter ini, mbak. Ini daerah pasar pagi,” katanya.

Karena ramai dan strategis itulah, membuat Hari dan rekan-rekannya bersama pihak LAA memilih membuka usaha di sana. Dalam sehari, kata Hari,  bisa 3 orang yang menyervis HP. Bahkan, pernah 10 orang sehari dengan kerusakan yang beragam, belum lagi customer yang membeli pernak-pernik lainnya.

Saat saya berada di sana, ada ibu-ibu yang membeli pulsa, tak lama kemudian, ada bapak-bapak yang minta tolong memindahkan data dari satu flash disc ke flash disc lain, karena bapak tersebut tak mempunyai komputer. 

Hari sedang melayani customer

Selain melayani perbaikan ponsel, counter ini juga melayani servis komputer, menjual pulsa, flash disc dan lain-lain. Untuk servis komputer, Hari mengaku belajar secara otodidak. Kemahirannya mengutak-ngatik handphone, membuatnya berani mengembangkan diri untuk merombak perangkat komputer. “Saya suka dengan kemajuan tehnologi,” ujarnya mengungkap alasan mengapa betah menekuni dunianya saat ini.

Ada Yang Hilang

Setelah melalui masa-masa perjuangan, dalam perjalanannya ada beberapa rekannya yang memilih mandiri dengan membuka usaha sendiri. Hingga, tersisalah tiga orang. Hari, Chairul Anwar dan Nurohim. Merekalah rekan satu angkatan yang bertahan menjaga gawang hingga saat ini.

Tahun 2015, ikut bergabung Dwi Trihandoko dan Yuda Martin. Keduanya adalah junior Hari yang mengikuti pelatihan service handphone LAA tahun 2013. Sama seperti Hari; Dwi dan Yuda mengikuti pelatihan tersebut karena belum punya pekerjaan usai menamatkan sekolahnya. Sampai sekarang, mereka berlimalah yang terus mengibarkan layar.

Dwi Trihandoko (baju hitam) tengah melayani customer

Meski kini yang mengelola counter tak sebanyak saat awal berdiri, namun tak membuat usaha tersebut menjadi surut. Buktinya, tahun 2015 lalu, Hari dan rekan-rekannya membuka counter service handphone baru yang lokasinya tak jauh dari tempatnya saat ini. LAA, yang menjadi "Bapak" untuk Master Handphone masih turun tangan membantu. Sayangnya, belum sampai setengah tahun usaha itu berjalan, counter mereka kebobolan. 14 unit ponsel milik customer dan alat-alat servis, berhasil digasak maling. Karena kondisi keamanan yang tidak memungkinkan, counter baru itupun terpaksa ditutup.

“Karena kejadian itu, mau gak mau kami mengganti handphone yang hilang tersebut per unit. Namun, ketika pemiliknya mengambilnya, mereka tetap kami kenakan biaya servis,“ ujar Hari sedih. Untuk mengganti biaya handphone yang hilang itu, dana mandiri dari usaha counter pun terpaksa dirogoh.

Meski demikian, saat ini Hari dan rekan-rekannya tetap konsentrasi  pada usaha pengembangan counter agar bisa melahirkan cabang-cabang yang potensial.


Kini Menjadi Master

Karena kepiawaian dan kecakapannya, sudah 4 tahun ini, Hari dipercaya LAA menjadi instruktur untuk mengajar di setiap pelatihan service handphone angkatan yang baru. Kepercayaan itu ia dapatkan tak lama setelah  mengikuti pelatihan pada 2012 lalu. “Setahun setelah ikut pelatihan dari LAA, saya dapat proyek jadi instruktur nih, untuk berbagi ilmu ngajarin junior, tapi harus jadi,” ujarnya tertawa.

Sudah sekitar 11 kali ia diajak LAA menjadi master atau instruktur pelatihan service handphone di Bogor dan di Jakarta. Saat ini, LAA kembali mengadakan pelatihan angkatan ke 17 di kawasan Buncit Raya, Jakarta Selatan. Kali ini, pelatihan yang dilakukan sejak 21 sampai 3 Desember 2016 ini disupport oleh DKM Astra Honda Motor. Hari pun, lagi-lagi didapuk menjadi instruktur.

Hari (berdiri) menyampaikan materi kpd peserta pelatihan sblm praktek



Suasana pelatihan pelatihan service handphone angkatan ke 17 di kawasan Buncit Raya, Jakarta Selatan. (Hari berada di tengah, baju putih)


 Pelatihan service handphone Lazis Amaliah Astra 21-3 Desember 2016


Selain diajak memberikan pelatihan service handphone, Hari dan rekan-rekannya juga rutin setiap tahun diajak ikut kegiatan Bakti Sosial LAA ke beberapa perusahaan grup Astra. Bakti sosial biasanya diadakan pada bulan Ramadan dan akhir tahun. Baksos tahunan yang pernah ia ikuti salah satunya di pabrik di pabrik Astra Daihatsu Motor (ADM) dan Astra Honda Motor (AHM) di Sunter. Kegiatan itu berlangsung dua hari.

Hari menceritakan pengalamannya dengan antusias.

“Kita open table di sana. Semua karyawan Daihatsu atau Honda yang handphonenya rusak, akan kami perbaiki. Sekali open table biasanya ada 50-an ponsel yang diservis. Karyawan grup Astra yang menyerviskan ponselnya kepada kami, gratis, karena ditanggung Astra. Nantinya, pihak Astra yang akan membayar kami, sesuai dengan jumlah hitungan biaya servis per unit HP,” tutur Hari.

Selain mendapatkan uang dari jasa pengerjaan atau perbaikan ponsel, kehadirannya di acara baksos dan pembiayaan stok sparepart counter juga ditanggung Astra.

Sudut counter

Hari dan 4 orang rekannya, sudah menjadi bagian dari keluarga Astra. Tak heran, setiap tahun mereka selalu dilibatkan untuk kegiatan CSR  perusahaan grup Astra atau bakti sosial melalui LAA.

“Sampai hari ini, dari segi usaha kita sudah mandiri, tapi dari skill atau keahlian kita masih dibantu dan dibina LAA dan PT DAC, misalnya sekarang lagi trending apa di pasaran, termasuk update pengetahuan soal tehnologi dan handphone yang terkini,” ujarnya.

Sejak Master Handphone berdiri, LAA mendapuk Hari sebagai penanggungjawab atau kepala counter. Kini, anak sulung dari 3 bersaudara ini lebih banyak memegang urusan administrasi, seperti menghitung biaya oprasional dan mengatur gaji bulanan untuk mereka berlima. Sesekali ia tetap membantu menyervis handphone.

Dalam sehari, pria yang doyan mengkonsumsi penganan mi ini, mengaku pemasukan rata-rata berkisar Rp300.000 per hari, bahkan pernah mencapai Rp 1 juta sehari.

Untuk pembagian gaji bulanan, Hari menjelaskan, dihitung berdasarkan siapa di antara rekan-rekannya yang paling banyak menyervis handphone dalam satu bulan. “Jadi, dalam satu bulan, gaji yang kami terima beda-beda, tergantung orderan” kata lulusan Manajemen Transport di salah satu sekolah tinggi di Jakarta ini.

Hari dan rekan-rekannya beruntung, karena bisa memulai usaha tanpa modal dan mendapatkan side job (menjadi instruktur dan dilibatkan bakti sosial) dari si pemberi bantuan pula. Itulah beberapa berkah yang didapat Hari dan rekan-rekannya selama 5 tahun ini.

Hari yang semula minim dengan ilmu tehnologi, kini malah menjadi master tehnologi. Dulu, Hari dilatih, kini ia melatih. Ilmu yang didapatkan secara gratis, nyatanya berguna bagi masyarakat yang membutuhkan. Dulu ia berpindah-pindah tempat pekerjaan dengan masa kerja 1 hingga 1,5 tahun karena sistem kontrak, kini ia bisa mandiri dan memimpin.

“Bekerja di sini sudah seperti kekeluargaan, kalau tak menyenangkan, gak mungkin saya bertahan sampai 5 tahun lebih,“ pungkas Hari sambil melanjutkan pekerjaannya.


Tetap Dikontrol

Apa yang dilakukan oleh Hari dan rekan-rekannya tetap dikontrol oleh pihak yayasan melalui LAA dan PT DAC. Seperti cash flow/audit keuangan, kemajuan SDM, alat-alat service handphone serta manajemen dan  kondisi counter.

Menurut Manager Pemberdayaan Yayasan Amaliah Astra, Agung Widodo, pengontrolan ini dilakukan agar orang-orang yang berada di bawah naungan LAA bisa disiplin dan serius melanjutkan wirausaha yang sudah mereka rintis bersama. Apalagi, visi misi LAA ingin menjadikan orang-orang yang dibantu, bisa mandiri. 

“Kita masih pantau terus, terutama untuk manajemen counter, kita mau tahu keseharian teman-teman di Master Handphone bagaimana. Dari jam masuk, jam pulang, transaksinya bagaimana dan juga audit keuangan. Setiap bulan mereka laporan ke kita,“ papar pria yang akrab disapa Dodo ini.

Menurut Dodo, Hari, sebagai kepala counter rutin memberikan  laporan sebulan sekali ke LAA. Misalnya, dalam satu bulan berapa handphone yang sudah diservis dan berapa penghasilan kotor yang sudah dipotong biaya oprasional. Pemotongan oprasional itu digunakan untuk membayar tehnisi, sewa tempat, listrik, dan lain-lain. 

Soal manajemen counter, Dodo bercerita.

Dulu, Hari dan rekan-rekannya kadang masuk jam 9 pagi , kadang jam 10 pagi. Sementara, pulang kadang jam 12 malam atau jam 2 pagi. Untuk itu, Dodo menyarankan, jam masuk kerja harus dipatok jam 8 pagi dan jam 10 malam harus pulang. Walaupun ada pekerjaan yang belum selesai, wajib pulang jam 10 malam, supaya pekerjaan mereka teratur dan kesehatan mereka tak terganggu.

Jadi tujuan kita mengontrol mereka, untuk melihat benar gak sih cara kerjanya? Kalau kurang benar, kita perbaiki, kalau sudah baik, kita buat lebih baik lagi. Walaupun secara skill tehnisi mereka berkembang sendiri, tapi kelemahannya mereka kurang bagus dari sisi manajemennya.  Kemarin belum diterapkan dan sekarang sudah diterapkan (disiplin jam masuk dan pulang), jadi kelihatan nih perkembangannya,” paparnya.  

Karena usahanya berkembang, Hari dan rekan-rekannya, menurut Dodo, menyisihkan sedikit pemasukan yang didapat untuk diberikan kepada yayasan melalui LAA. Meski begitu, pihak yayasan  tidak mematok berapa nominal yang harus disisihkan untuk mereka.

Mereka kita edukasi untuk berbagi, tadinya mereka kita bantu, kini giliran mereka yang membantu. Kita kan ada lembaga zakat juga, jadi uang itu nanti kita olah lagi untuk pelatihan service handphone selanjutnya. Walaupun tak banyak, tapi mereka kan merasa ikut membantu atau berperan, jadi gantian mereka yang membantu,” ujar Dodo sumringah.
Counter Master Handphone

Dodo memaparkan, sejak 2010 hingga 2016, sudah 334 orang yang menerima manfaat pemberdayaan pelatihan teknisi ponsel. Total dana yang telah disalurkan mencapai ratusan juta rupiah. Dana itu berasal dari  masyarakat yang memberikan infaq, sedekah atau zakat ke yayasan.

Selama 6 tahun ini, kurang lebih sudah 15 kali LAA mengadakan pelatihan service handphone yang disupport oleh beberapa perusahaan grup PT Astra International Tbk. 

Setiap tahun bisa 2 sampai 3 kali mengadakan pelatihan, tergantung dari request (permintaan) CSR perusahaan-perusahaan grup Astra. Perusahaan itu akan menjadi sponsor. Pelatihan dilakukan di daerah Jabodetabek, paling jauh Bandung,” ujar pria yang sudah 3 tahun bergabung di yayasan ini.

Yayasan Amaliah Astra, adalah salah satu yayasan yang didirikan oleh PT Astra International Tbk pada 2001. Tak hanya fokus pada kegiatan keagamaan saja, melalui Lazis Amaliah Astra (LAA), Yayasan ini juga memfasilitasi pemberian zakat, infaq dan sedekah  yang disalurkan untuk beasiswa dan modal wirausaha masyarakat, salah satunya dengan memberikan pelatihan service handphone secara gratis. Hari dan rekan-rekannya, hanya segelintir bagian dari orang-orang yang sudah merasakan manfaatnya. 

 Hari tengah menyervis handphone yang rusak LCD


Read More